Malaysia Journeys

Malaysia Journeys

Halo Riders! How you doing?

Well, welcome to the last stories in my Malaysia Journeys. Sudah hampir sebulan sejak saya menginjakan kaki di negeri Jiran untuk pertama kalinya untuk sekedar mencari arti sebuah kehidupan. Disinilah aku, dinegeri yang tidak begitu jauh dari ibu Pertiwi namun memberikan sensasi akan makna sebuah kehidupan.

Kali ini saya ingin bercerita tentang kegiatan terakhir dalam program volunteering saya di Malaysia. Jujur, hari terakhir adalah hari yang saya tunggu-tunggu sejak pertama kali mengunjungi negeri yang cukup terkenal dengan berbagai brand cokelat ini, yaitu mengajar di sebuah sekolah khusus anak-anak etnik Rohingya. Ethnic Rohingya Committee of Arakan (ERCA) Malaysia, Knowledge Garden Learning Centre KGLC yaitu nama dari sekolah ini yang tentunya juga di dukung penuh oleh UNHCR, The UN Refugee Agency.

C62CB365-1425-438F-B99F-AE7367F08B55

Sempat terbesit dalam pikiran ku tentang kondisi sekolah serta nasib anak-anak disana saat sedang berada di dalam bus. Tenang saja, di hari terakhir perjalanan saya di Malaysia tidak saya gunakan untuk tidur ketika berada di dalam bus, saya lebih memilih untuk menikmati pemandangan sebuah tempat baru yang cukup jauh dari keramaian ibu kota. Cuaca sedikit berangin serta lembab ketika rintikan hujan senantiasa menemani langit sejak pagi tadi. Untung saja saya tidak dibuat “baper” karena suasana yang begitu syahdu.

Setelah cukup lama terbuai dalam khayalan, tak terasa bus yang saya tumpangi berhenti tepat didepan pagar yang terlihat usang namun masih berdiri kokoh layaknya sebuah prajurit yang berdiri tegap menyambut tamu-tamunya. Ketika menginjakan kaki di lingkungan sekolah, ada rasa senang juga takut ketika nanti berhadapan dengan anak-anak. Saya memang sudah cukup sering mengajar serta menghadapi berbagai tingkah anak-anak, tetapi ada saja rasa takut ketika saya tidak bisa membuat mereka nyaman untuk belajar dengan saya. Mungkin inilah ketakutan yang sering dirasakan oleh guru-guru “amatir” seperti saya yang pada dasarnya tidak memiliki background untuk mengajar.

Saya adalah orang yang pertama kali menginjakan kaki didalam ruangan kelas yang dipenuhi sekitar 30 bahkan lebih anak-anak berdarah Rohingya ini. Dari tatapan mereka, ada perasaan asing, takut dan juga penasaran terhadap manusia-manusia termasuk saya yang berdiri didepan kelas saat itu.

59FE0E60-86B4-4929-9FFE-232BEB79D140

DB2BDEF8-B101-4CF4-B763-5BAFFD2407FC7F0798A5-74BF-4B13-AEDB-F9455D189FEAAwalnya saya pikir mereka akan merasa segan dan juga malu-malu untuk sekedar menyapa guru-guru amatir seperti saya ini, tetapi semua itu berbanding 180 derajat dari perkiraan saya; beberapa dari mereka langsung menghampiri dan mencium tangan saya, bahkan ada juga yang langsung memeluk saya tanpa perasaan takut dan asing. Seketika, suasana yang awalnya hening berubah menjadi sangat ramai dengan suara tertawa dari bibir-bibir mungil mereka.

Pembukaan acara diawali dengan lantunan ayat-ayat suci alquran yang juga diikuti oleh anak-anak yang keseluruhannya beragama muslim. Saya memang tidak mengerti arti dari doa-doa tersebut, tetapi saya bisa merasakan perasaan damai di hati saya, ah! Keberagaman memang begitu indah!

Bagian terpenting dalam perjalanan saya di Malaysia dimulai saat panita membagi kelompok belajar. Finally, saya mendapatkan jatah untuk mengajar 7 anak laki-laki yang kegantengannya melebih saya hahaha. Unfortunately, saya adalah orang yang sangat buruk dalam mengingat nama sehingga saya lupa beberapa nama anak-anak yang saya ajar.  percayalah, saya tidak akan pernah lupa akan pelajaran-pelajaran hidup yang diberikan anak-anak ini secara tidak langsung.

FFB5F391-36CD-413D-8800-064CAF238105.jpeg

7 orang ( 1 orangnya kabur) murid yang saya ajar. Nama team kami “Team BoBoiBoy”

Saya fokus untuk mengajar serta membantu mereka untuk menghapal pelajaran bahasa Inggris dasar seperti warna, bagian tubuh serta basic conversations menggunakan metode fun learning yaitu belajar sambil bermain. Saya begitu salut dengan kemampuan serta kemauan mereka yang begitu besar untuk belajar, bahkan ada beberapa murid yang menyuruh saya untuk menjadi guru tetap mereka!

“ Cikgu.. esok cikgu ajar kitorang lagi kan?’’ kata salah satu murid saya, “ Kenapa? Serono ke kalau cikgu yang ajar?” jawab ku dengan mencoba berbahasa Melayu hasil dari menonton Upin dan Ipin :v. Mereka sangat senang jika memiliki guru dari Indonesia, mereka juga ingin mengunjungi Indonesia saat mereka dewasa nanti.

Ketika saya merasa sudah cukup waktu yang dihabiskan untuk belajar dan bermain, saya mengajak mereka untuk duduk didepan gedung sekolah sekedar untuk bercerita pengalaman mereka selama bersekolah disini.

4BB705C7-B31A-4291-AE97-F3FA034CD169

Senyum bahagia ketika berhasil membuat anak-anak tersebut duduk diam 🙂

Saya adalah orang yang suka belajar dari pengalaman orang lain, bahkan anak-anak sekalipun. Jujur saja, pembahasan yang dibawakan oleh anak-anak ini cukup beragam, mulai dari misteri buaya di sungai samping sekolah, hantu sugus loncat/ hantu bungkus a.k.a Pocong di gedung sekolah, menara kembar, filter kamera snapchat (I told you before that it was so random right haha) hingga akhirnya aku bertanya kepada mereka “ Siapa yang dah pernah naik pesawat?”, secara bersamaan mereka menjawab belum pernah sama sekali. Saya terdiam, dan berfikir apakah saya memberi pertanyaan yang salah? Sampai seorang anak bertanya kepada saya seperti apa rasanya naik pesawat. Saya lalu mengeluarkan hape dan menunjukan video-video yang saya rekam saat berada diatas langit dan saat pesawat sedang mendarat.

f5e04e16-e275-4c64-8925-c4080b88c381.png

Gambaran video yang saya perlihatkan pada mereka

Saya bisa melihat kebahagian mereka yang mungkin sedang berangan-angan berada dalam pesawat tersebut. Saya juga mengatakan kepada mereka bahwa dibawah sana adalah Malaysia, dan salah seorang anak berkata “ besarnya Malaysia” , ada juga yang bertanya ‘’Cikgu, Indonesia dekat tak sama Malaysia ?” akhirnya, saya membuka maps dan menunjukan dengan bangga dimana Indonesia itu berada kepada mereka.

Saya berkata kepada mereka, “ Kalau korang nak seperti Cikgu yang bisa naik pesawat Cuma-Cuma, Korang harus belajar keras, janji sama Cikgu?” dengan penuh semangat mereka menjawab “ kitorang janji Cikgu”

Tidak terasa waktu seakan merebuh kehangatan yang terjadi disela-sela percakapan saya dengan murid-murid yang sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Tak terasa, saya sudah harus meninggalkan mereka yang kini telah menjadi bagian dari cerita hidup saya. Saya tidak bisa memberikan mereka barang-barang yang mewah ataupun ilmu yang begitu hebat, tetapi saya telah mencoba untuk membuka mata mereka untuk tidak takut melihat dunia lebih dalam, untuk tidak menyerah dengan keadaan dan untuk bertarung mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Saya juga memberi mereka beberapa pecahan uang rupiah sebagai alat motivasi untuk berkunjung ke Indonesia suatu saat nanti.

Raut wajah sedih yang tidak bisa ditutupi oleh mereka membuat saya tidak dapat membendung air mata ini. Saya memeluk mereka dan menyakinkan bahwa kita akan bertemu suatu saat nanti, mungkin saat mereka sudah menjadi seorang dokter, pilot, tentara bahkan seorang guru? Siapa yang bisa menebak masa depan.

3DB4EEC1-14FB-45D6-9390-8C8BBC4FF9AB

Wajah-wajah yang tersenyum ketika diberikan buku dan alat tulis

Dengan berat hati saya berjalan perlahan menuju kursiku didalam bus. Saya duduk, berdiam serta menatap jauh keluar sama melihat masih banyak orang-orang yang hidupnya sangat sederhana bahkan jauh dari kata cukup, namun mereka masih bisa bersyukur dan masih bisa tersenyum.

Yang awalnya saya ingin menginspirasi mereka, justru mereka yang menginspirasi saya untuk selalu besyukur dan tidak mengeluh dengan hidup ini. Mereka mengajarkan saya arti sebuah ketulusan, cinta dan juga rasa saling memiliki. Melihat mimpi-mimpi mereka, tertanam di dalam batin saya untuk segera menyelesaikan pendidikan saya dan berjuang untuk mewujudkan jutaan mimpi anak-anak melalui ranah pendidikan.

“Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.’’ 2D73D3B4-FC07-43F2-841A-4F857880CDAD.jpeg

Malaysia Journeys Part 3: Menginspirasi, Terinspirasi dan Sebuah Refleksi Kehidupan

Penulis : Bhrisco Jordy (Delegasi Edu-Social Program 1 Malaysia)

Leave a comment